Pages - Menu

Slide Gambar

welcome

welcome

Selasa, 08 Oktober 2013

Hukum Berperang


Hukum Berperang dalam Islam

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa hukum berperang adalah fardu ‘ain atas tiap-tiap orang Islam, tetapi yang lebih hak hukum berperang itu ialah fardu kifayah, artinya wajib atas sebagian umat Islam. Akan tetapi, kalau sebagian umat telah mengerjakannya sert sudah cukup bilangannya menurut keperluan pada waktu itu, maka terlepaslah kewajiban itu dari orang lain yang tidak mengerjakannya, kecuali apabila keadaan yang memaksa, maka ketika itu barulah berlaku huku fardu ‘ain.
Firman Allah Swt.:
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derjat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”. (Qs An-Nisa:95)
Ketika hukum berperang masih fardu kifayah, maka untuk menentukan memilih balatentara dari jumlah umat Islam di masaRasulullah Saw. terserah kepada Beliau. Sesudah Beliau berpulang ke Rahmatullah, kekuasaan itu jatuh ke tangan khalifah (Imam A’zam). Berlaku hukum fardu ‘ian atas orang yang dipilih menjadi balatentara itu, artinya mereka wajib menjalankan kewajiban suci untuk mendapatkan keridaan Allah. Sekarang siapakah yang berhak menentukan balatentara itu? Menurut agama, yang dapat mengambil hak pimpinan apabila pimpinan tidak ada ialah “ahlul halli wal ‘aqdi”, mereka adalah ulama cerdik pandai, pemimpin-pemimpin yang menjalankan hukum Allah.
Sebagian Ulama berpendapat berpendapat hukum berperang adakalanya fardu ‘aian dan adapula kalanta fardu kifayah menurut keadaannya.
Fardu kifayah bila dalam dua keadaan:
a.      Untuk menjaga batas-batas negeri Islam sewaktu damai sebelum terjadi peperangan. Jumlahnya menurut keperluan yang sesuai dengan keadaan tiap-tiap masa dan tempat.
b.      Apabila Imam telah mengumumkan perang terhadap musuh, ketika itu fardu kifayah atas orang-orang yang mecukupi syarat-syaratnya. Jumlahnya menurut keperluan pada waktu itu.
Hukum berperang menjadi fardu ‘ain atas tiap-tiap muslim apabila musuh telah masuk ke dalam negeri Islam. Ketika itu berperang menjadi fardu ‘ain bagi tuap-tiap penduduk negeri yang telah dimasuki musuh itu dan penduduk negeri-negeri yang berada di sekitar negeri itu, yang jauhnya kurang dari perjalanan qasar (kira-kira 80,640 KM); fardu kifayah atas lebihnya, jumlahnya menurut kepentingan, sekedar mencukupi kebutuhan untuk pembelaan negeri yang tealh dimasuki musuh itu.

Demikian hukum berperang (berjihad) di jalan Allah Swt. Apabila terdapat kekurang atau kesalah mohon komentarnya untuk menambah wawasan kita. Karena membagi ilmu yang telah kita dapat akan menjadi pahala bagi kita. Sampaikan lah walau Cuma satu ayat.

Sumber
Rasjid, Sulaimam, H. 1986. Fiqh Islam. Bandung: CV Sinar Biru

1 komentar: