Hukum Berperang dalam Islam
Meskipun
sebagian ulama berpendapat bahwa hukum berperang adalah fardu ‘ain atas
tiap-tiap orang Islam, tetapi yang lebih hak hukum berperang itu ialah fardu
kifayah, artinya wajib atas sebagian umat Islam. Akan tetapi, kalau
sebagian umat telah mengerjakannya sert sudah cukup bilangannya menurut
keperluan pada waktu itu, maka terlepaslah kewajiban itu dari orang lain yang
tidak mengerjakannya, kecuali apabila keadaan yang memaksa, maka ketika itu
barulah berlaku huku fardu ‘ain.
Firman
Allah Swt.:
لَا يَسْتَوِي
الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ
اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ
أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya
“Tidaklah
sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai
uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derjat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”. (Qs An-Nisa:95)
Ketika
hukum berperang masih fardu kifayah, maka untuk menentukan memilih
balatentara dari jumlah umat Islam di masaRasulullah Saw. terserah kepada
Beliau. Sesudah Beliau berpulang ke Rahmatullah, kekuasaan itu jatuh ke tangan
khalifah (Imam A’zam). Berlaku hukum fardu ‘ian atas orang yang dipilih
menjadi balatentara itu, artinya mereka wajib menjalankan kewajiban suci untuk
mendapatkan keridaan Allah. Sekarang siapakah yang berhak menentukan
balatentara itu? Menurut agama, yang dapat mengambil hak pimpinan apabila pimpinan
tidak ada ialah “ahlul halli wal ‘aqdi”, mereka adalah ulama cerdik
pandai, pemimpin-pemimpin yang menjalankan hukum Allah.
Sebagian
Ulama berpendapat berpendapat hukum berperang adakalanya fardu ‘aian dan
adapula kalanta fardu kifayah menurut keadaannya.
Fardu
kifayah bila dalam
dua keadaan:
a. Untuk menjaga
batas-batas negeri Islam sewaktu damai sebelum terjadi peperangan. Jumlahnya menurut
keperluan yang sesuai dengan keadaan tiap-tiap masa dan tempat.
b.
Apabila Imam telah mengumumkan perang terhadap musuh,
ketika itu fardu kifayah atas orang-orang yang mecukupi syarat-syaratnya.
Jumlahnya menurut keperluan pada waktu itu.
Hukum berperang menjadi fardu ‘ain atas tiap-tiap
muslim apabila musuh telah masuk ke dalam negeri Islam. Ketika itu berperang
menjadi fardu ‘ain bagi tuap-tiap penduduk negeri yang telah dimasuki
musuh itu dan penduduk negeri-negeri yang berada di sekitar negeri itu, yang
jauhnya kurang dari perjalanan qasar (kira-kira 80,640 KM); fardu kifayah
atas lebihnya, jumlahnya menurut kepentingan, sekedar mencukupi kebutuhan untuk
pembelaan negeri yang tealh dimasuki musuh itu.
Demikian
hukum berperang (berjihad) di jalan Allah Swt. Apabila terdapat kekurang atau
kesalah mohon komentarnya untuk menambah wawasan kita. Karena membagi ilmu yang
telah kita dapat akan menjadi pahala bagi kita. Sampaikan lah walau Cuma satu
ayat.
Sumber
Rasjid,
Sulaimam, H. 1986. Fiqh Islam. Bandung: CV Sinar Biru
syukron....!
BalasHapus